Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka: Pentingnya Bagi Aparatur Sipil Negara Kemenag untuk Tidak Sekadar menjadi Penonton di Era Transformasi Digital. Kini Umat Manusia Menghadapi Tantangan Besar Bernama Artifiacial Inteligebce atau Kecerdasan Buatan

  • Bagikan
Puncak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama (Kemenag) RI di Sulawesi Tenggara berlangsung khidmat. Upacara yang digelar di pelataran Kanwil Kemenag Sultra, menjadi momentum penting untuk menegaskan peran agama di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

KENDARI, WAJAH SULTRA COM–Puncak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama (Kemenag) RI di Sulawesi Tenggara berlangsung khidmat. Upacara yang digelar di pelataran Kanwil Kemenag Sultra, menjadi momentum penting untuk menegaskan peran agama di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, menyampaikan langsunv sambutan Menteri Agama.

Dalam yang dibacakannya, ia menekankan pentingnya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag untuk tidak sekadar menjadi penonton di era transformasi digital.

“Kini, umat manusia menghadapi tantangan besar bernama Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kita hidup di era VUCA Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity di mana perubahan berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di era ini, kita tidak boleh sekadar menjadi penonton. Kita harus memiliki kedaulatan AI,” katanya dalam sambutannya.

Menurut Gubernur yang akrab disapa ASR ini, penguasaan teknologi harus dibarengi dengan nilai-nilai moral. Ia mendorong ASN Kemenag untuk mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang moderat, sejuk, dan otoritatif. Hal ini bertujuan agar algoritma masa depan tidak hampa dari nilai ketuhanan.

“AI Kita harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,” imbuhnya.

Mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, peringatan HAB ke-80 ini juga menjadi ajang refleksi atas capaian sepanjang tahun 2025.

Kata Gubernur Sultra, Kemenag dinilai berhasil membangun fondasi “Kemenag Berdampak” melalui berbagai inovasi, di antaranya Transformasi Digital melalui Layanan keagamaan yang kini lebih transparan, cepat, dan dekat dengan masyarakat.

Kemudian penguatan ekonomi umat yang melalui Pemberdayaan melalui zakat, wakaf, hingga kemandirian pesantren. Peningkatan Kualitas Pendidikan melalui Madrasah dan Perguruan Tinggi Keagamaan yang kini kualitasnya sejajar, bahkan melampaui standar pendidikan umum. Serta programa desa sadar Kerukunan yakni membumikan praktik toleransi langsung di tengah masyarakat.

“Program-program tersebut tidak hanya mendorong kemandirian lembaga keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara umum. Di bidang pendidikan, Madrasah, Sekolah Keagamaan, dan Perguruan Tinggi Keagamaan kita terus menunjukkan peningkatan kualitas hingga tidak lagi dipandang sebagai pilihan kedua,” ungkap Andi

Gubernur Sultra juga mengajak seluruh jajaran Kemenag untuk menjadi pribadi yang agile—lincah, adaptif, dan responsif dalam melayani umat. Sinergi seluruh komponen bangsa dianggap sebagai kunci utama menggerakkan kemajuan negara.”Sesuai tema HAB ke-80, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju,” marilah kita satukan tekad. Dengan fondasi yang kokoh, semangat pengabdian yang berdampak, serta penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis mampu mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” tandasnya.

Upacara ini turut dihadiri oleh Kakanwil Kemenag Sultra H. Mansur, jajaran Forkopimda, tokoh lintas agama, serta para purnabakti yang pernah mengharumkan nama Kemenag di Bumi Anoa.(HenDalam yang dibacakannya, ia menekankan pentingnya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag untuk tidak sekadar menjadi penonton di era transformasi digital.

“Kini, umat manusia menghadapi tantangan besar bernama Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kita hidup di era VUCA Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity di mana perubahan berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di era ini, kita tidak boleh sekadar menjadi penonton. Kita harus memiliki kedaulatan AI,” katanya dalam sambutannya.

Menurut Gubernur yang akrab disapa ASR ini, penguasaan teknologi harus dibarengi dengan nilai-nilai moral. Ia mendorong ASN Kemenag untuk mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang moderat, sejuk, dan otoritatif. Hal ini bertujuan agar algoritma masa depan tidak hampa dari nilai ketuhanan.

“AI Kita harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,” imbuhnya.

Mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, peringatan HAB ke-80 ini juga menjadi ajang refleksi atas capaian sepanjang tahun 2025.

Kata Gubernur Sultra, Kemenag dinilai berhasil membangun fondasi “Kemenag Berdampak” melalui berbagai inovasi, di antaranya Transformasi Digital melalui Layanan keagamaan yang kini lebih transparan, cepat, dan dekat dengan masyarakat.

Kemudian penguatan ekonomi umat yang melalui Pemberdayaan melalui zakat, wakaf, hingga kemandirian pesantren. Peningkatan Kualitas Pendidikan melalui Madrasah dan Perguruan Tinggi Keagamaan yang kini kualitasnya sejajar, bahkan melampaui standar pendidikan umum. Serta programa desa sadar Kerukunan yakni membumikan praktik toleransi langsung di tengah masyarakat.

“Program-program tersebut tidak hanya mendorong kemandirian lembaga keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara umum. Di bidang pendidikan, Madrasah, Sekolah Keagamaan, dan Perguruan Tinggi Keagamaan kita terus menunjukkan peningkatan kualitas hingga tidak lagi dipandang sebagai pilihan kedua,” ungkap Andi

Gubernur Sultra juga mengajak seluruh jajaran Kemenag untuk menjadi pribadi yang agile—lincah, adaptif, dan responsif dalam melayani umat. Sinergi seluruh komponen bangsa dianggap sebagai kunci utama menggerakkan kemajuan negara.

“Sesuai tema HAB ke-80, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju,” marilah kita satukan tekad. Dengan fondasi yang kokoh, semangat pengabdian yang berdampak, serta penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis mampu mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” tandasnya.

Upacara ini turut dihadiri oleh Kakanwil Kemenag Sultra H. Mansur, jajaran Forkopimda, tokoh lintas agama, serta para purnabakti yang pernah mengharumkan nama Kemenag di Bumi Anoa.(Hen)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *