Dinilai Memberatkan, Wacana Pemkot Naikkan Retribusi Minuman Beralkohol

KENDARI, WAJAHSULTRA.COM — Wacana Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari yang bakal menaikan retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol mendapat tanggapan dari pihak agen.

Salah seorang agen penjualan langsung minuman beralkohol, Ulil Amri merasa kenaikan retribusi yang mencapai 500 hingga 700 persen itu sangat memberatkan para agen dan distributor.

Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kota Kendari Nomor 3 Tahun 2015 tentang Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol itu ditujukan untuk distribitor membayar retribusi sebesar Rp 20 juta per tahun.

Sedangkan untuk agen penjualan langsung sendiri berbeda-beda, seperti di tempat karaoke keluarga di bawah tujuh room dikenakan retribusi Rp 5 juta pertahun dan di atas tujuh room harus membayar Rp 7 juta setiap tahun. “Wacana kenaikan itu sangat memberatkan buat kami. Sebelumnya kita bayar retribusi Rp 20 juta, namun jika ada kenaikan retribusi itu maka kami harus membayar 150 juta pertahun,” jelasnya. Rabu, (02/09).

 

“Sedangkan rumah bernyanyi, dari Rp 5 juta menjadi Rp 35 juta pertahun, sementara karaoke eksekutif di atas 10 room itu tadinya membayar dari Rp 10 juta menjadi Rp 75 juta,” sambungnya.

Beratnya wacana kenaikan retribusi itu kata mantan Ketua Asosiasi Rumah Makan, Karaoke, dan PUB (AROKAB) Kota Kendari ini, dikarenakan situasi saat ini yang masih dalam situasi pandemi COVID-19. “Terlebih kita semua tutup selama empat bulan waktu COVID-19 kemarin. Jadi perputaran barang dan jasa di sektor industri jasa hiburan ini benar-benar turun drastis,” paparnya.

Meski demikian kata dia, pihak agen sesungguhnya tidak mempermasalahkan jika adanya kenaikan retribusi. Hanya saja terang Ulil, kenaikan itu terlalu tinggi dan memberatkan para agen. “Kalau kenaikannya sekitar 30 persen mungkin kita masih terima. Karena kita ingin pertumbuhan PAD di Kota Kendari ini bisa signifikan setelah dihantam COVID-19. Jadi kami bukan menolak kenaikan, hanya saja jangan terlalu tinggi juga,” ungkapnya.

Ia pun berharap, jika benar terjadi kenaikan, maka tidak terlalu memberatkan pengusaha, karena akan berdampak langsung terhadap agen bahkan sampai pada pengecer. “Kalau misalnya naik sampai Rp 150 juta per tahun, pasti akan ada kenaikan harga barang dan akan berimbas ke konsumen. Pastinya tempat kita juga akan sepi, orang juga tidak mau lagi membeli di dalam. Ada penurunan konsumen dan pemangkasan karyawan, itu pasti,” urainya.

Sehingga dengan wacana kenaikan retribusi tersebut dirinya bersurat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota agar difasilitasi untuk melakasanakan hearing antara Pemkot Kendari dan para agen dan distributor minuman yang beralkohol. “Saya sudah bersurat, jadi kita tunggu saja,” tutupnya. (P2/hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img